Vincent Van Gogh dan Fakta Menarik Tentangnya

  • Bagikan
Vincent Van Gogh, Fakta Menarik, Tentang Vincent Van Gogh, Seniman, Pelukis, Artikel, Seni dan Budaya, Infonesa: Vincent Van Gogh dan Fakta Menarik Tentangnya
“Vincent Van Gogh dan Fakta Menarik Tentangnya” | Foto ©Prawny/Pixabay

SENI DAN BUDAYA | INFONESA — Vincent Willem Van Gogh lahir di Zundert, Belanda, 30 Maret 1853 – meninggal di Auvers-sur-Oise, Prancis, 29 Juli 1890 (pada umur 37 tahun). Vincent Van Gogh adalah pelukis pascaimpresionis Belanda yang menjadi salah satu tokoh paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah seni di Barat.

Vincent adalah anak sulung dari pasangan Theodorus van Gogh, seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda, dan Anna Cornelia Carbentus. Ibu Van Gogh berasal dari keluarga kaya di Den Haag, sementara ayahnya adalah anak bungsu seorang pendeta. Orang tua Van Gogh menikah pada Mei 1851 dan pindah ke Zundert.

Ia menciptakan kurang lebih 2.100 karya seni dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa. Sekitar 860 lukisan minyak kebanyakan dibuat selama dua tahun terakhir kehidupannya. Karya-karya tersebut meliputi lukisan bentang alam, alam benda, potret, dan potret diri. Lukisan Vincent memiliki ciri khas berupa warna yang tebal dan dramatis serta goresan kuas yang impulsif dan ekspresif.

Van Gogh bukanlah seorang seniman yang sukses pada masa hidupnya. Ia pernah menulis bahwa masa mudanya “keras, dingin, dan hampa”. Ia menjadi terkenal setelah meninggal dunia, tepatnya setelah tampil dalam khayalan publik sebagai seorang jenius yang disalahpahami. Reputasinya mulai bertumbuh pada awal abad ke-20 karena unsur-unsur gaya lukisnya digunakan oleh seniman ekspresionis Jerman dan Fauvis.

Berikut ini beberapa fakta menarik dan kontroversial tentang Vincent Van Gogh:

1) Memotong Telinganya Sendiri

Pada 1888, Vincent ke Arles untuk mendirikan sebuah “koloni pelukis” bernama “Rumah Kuning”. Ia membujuk seorang rekan, Paul Gauguin yang akhirnya setuju untuk pindah ke Rumah Kuning bersama Van Gogh.

Namun, sifat Gauguin yang congkak “bertubrukan” dengan Van Gogh yang sensitif. Selain itu, dikarenakan kebiasaan hidup hedonistik membuat hubungan keduanya semakin renggang. Namun, karena kekagumannya terhadap Gauguin, Van Gogh  takut saat melihat sang rekan bermaksud meninggalkannya dan Rumah Kuning.

Konon, setelah bertengkar dengan Gauguin pada 1889, Van Gogh bak mendengar “suara”. Karena tak tahan, ia mengiris telinga kirinya sendiri! Van Gogh kemudian mengirimkan telinga tersebut ke rumah bordil langganannya dan Gauguin. Ia memberikannya kepada seorang wanita bernama Rachel. Saat polisi sampai ke Rumah Kuning, mereka menemukan Van Gogh dalam keadaan pingsan dan bersimbah darah!

Pada Januari 1889, Van Gogh bolak-balik ke rumah sakit karena masalah kejiwaannya. Setelah Rumah Kuning ditutup, sang “Le Fou Roux” (Orang Gila Berambut Merah) pergi dari Arles dan berdiam di sebuah rumah sakit jiwa di Saint-Rémy, Provence pada Mei 1889.

2) Seumur Hidupnya Hanya Menjual Satu Lukisan

Pada Februari 1889, Vincent diundang untuk memamerkan lukisannya di Les XX, pameran seni tahunan prestisius di Brussel, Belgia. Ia membawa tiga lukisan lanskap, dua lukisan studi bunga matahari, dan sebuah lukisan bertajuk “The Red Vineyard“.

Meskipun sempat dicemooh oleh pelukis Les XX. Namun, seorang pelukis perempuan dan kolektor seni, Anna Boch, terkesima dengan The Red Vineyard. Anna Boch adalah saudari dari Eugene Boch, teman pelukis Van Gogh. Dengan mahar 400 franc (US$2.000 atau hampir Rp29 juta), Boch memboyong lukisan tersebut. Anna berharap Van Gogh kembali percaya diri dengan transaksi bersejarah tersebut.

The Red Vineyard terkenal sebagai lukisan satu-satunya yang resmi dibeli seumur hidupnya! Sesuai namanya, lukisan ini memperlihatkan pekerja ladang di kebun anggur merah. Kini, The Red Vineyard terpampang di Museum Pushkin di Moskow, Rusia.

3) Vincent Van Gogh Melukis The Starry Night di RSJ

Setelah memotong kupingnya sendiri, Vincent mengalami halusinasi serta berbagai masalah psikologis. Ia kemudian pindah secara sukarela ke rumah sakit jiwa Saint-Paul-de-Mausole di Saint-Rémy, Provence, Timur Laut Arles pada Mei 1889.

Vincent van Gogh tetap berkreasi dalam jeruji besi. The Starry Night dilukis pada Juni 1889 di siang hari. Van Gogh hanya mengandalkan memorinya untuk melukis pemandangan langit malam berbintang.

Goresan “putaran angin” yang khas dari lukisan Van Gogh saat mendekam di rumah sakit jiwa ditafsirkan sebagai dari simbol alam semesta yang tak terhingga hingga halusinasi mental Van Gogh. Sejak 1941, The Starry Night tersimpan di Museum of Modern Art, New York City, Amerika Serikat.

4) Vincent Van Gogh Hanya Pacaran Sekali Seumur Hidupnya

Vincent van Gogh ternyata pernah menjalin hubungan saat tinggal di Den Haag pada 1882. Vincent menjalin hubungan dengan seorang janda berprofesi sebagai pelacur, berusia 32 tahun bernama Clasina Maria “Sien” Hoornink. Selain pacar, Sien juga menjadi model lukis Van Gogh dan tinggal bersamanya.

Namun, dikarenakan kondisi kesehatannya dan gonta-ganti pasangan, Van Gogh pun tertular gonore pada 1882 hingga dirawat di rumah sakit. Saat berhubungan dengan Van Gogh, Sien sudah memiliki putri berusia 5 tahun, Maria Wilhelmina, dan tengah hamil. Saat tinggal bersama, Sien melahirkan Willem dan Vincent pun mantap menikahi Sien saat itu!

Namun, karena dipaksa orangtuanya yang religius dan bujukan Theo, Vincent pun putus dengan Sien pada 1883 dan hengkang ke Drenthe. Sien sempat menuduh Vincent sebagai ayah Willem, namun tak terbukti. Akhirnya, Sien menitipkan Maria pada ibunya dan Willem pada saudaranya.

Putus dari Van Gogh, Sien melanjutkan hidup sebagai penjahit, tukang bersih-bersih, dan pekerja seks komersial. Sempat menikah lagi pada 1901, Sien akhirnya bunuh diri dengan terjun ke Sungai Scheldt pada 1904. Setidaknya, Sien hidup lebih lama dibandingkan Van Gogh.

5) “Bedroom in Arles” Adalah Lukisan Favorit Vincent

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Vincent sangat produktif saat berada di Arles. Dia menyukai semua lukisannya tapi salah satu favoritnya adalah kamar tidurnya.

Dia menulis beberapa surat kepada keluarganya yang menjelaskannya secara rinci dan memuji kesederhanaannya.

Lukisan itu adalah salah satu karya Van Gogh yang paling populer karena asosiasi berbagai warna dan perspektifnya yang khas membuatnya unik.

6) Vincent Van Gogh Bunuh Diri

Steven Naifeh dan Gregory White Smith melakukan penelitian selama 10 tahun dan bekerja sama dengan lebih dari 20 penerjemah dan peneliti. Dua orang itu menulis buku tentang sejarah kehidupannya Vincent Van Gogh yang diberi judul “The Life” (Kehidupan).

Menurut kesimpulan mereka, Van Gogh tidak membunuh dirinya. Sesungguhnya, ia tak sengaja tertembak oleh dua anak yang dikenalnya sebagai bocah pemilik “senjata api rusak”.

Dengan bantuan peneliti dan penerjemah, kedua penulis menyisir ribuan surat sang maestro yang belum pernah diterjemahkan sebagai bahan studi dan dokumen untuk membangun basis data yang berisi 28.000 catatan.

“Pemahaman sejumlah orang di Auvers diantara orang-orang yang kenal dirinya adalah dia terbunuh dalam kecelakaan yang melibatkan dua bocah dan dia memilih melindungi mereka dengan mengaku menembak diri sendiri.”
Kesimpulan ini, menurut penulis juga didukung oleh hasil penelitian sejarawan seni John Rewald yang merekam versi kejadian tersebut saat mendatangi Auvers tahun 1930an. Beberapa rincian kejadian juga dianggap mendukung teori itu.

Termasuk diantaranya, penjelasan bahwa peluru ternyata menembus bagian perut atas Van Gogh dari sudut yang aneh, bukan lurus seperti dari arah tembakan sendiri.

“Dua bocah ini, satu diantaranya mengenakan baju koboi dan pistol rusak yang dipakainya bermain tembak-tembakan, diketahui minum-minum saat itu bersama Vincent.”

“Jadi ada dua anak remaja dengan pistol tak berfungsi, ada satu anak yang senang main koboi, lalu ada tiga orang yang mungkin tiga-tiganya minum terlalu banyak.”

Dengan begitu situasi “pembunuhan tak sengaja” dianggap “lebih mungkin”.

Sementara penulis Gregory White Smith, menilai Van Gogh tidak “dengan sengaja mencari mati tetapi ketika kematian datang, atau saat kemungkinan meninggal muncul, dia merengkuhnya”.

Sikap Van Gogh menerima kematian itu menurutnya “benar-benar didasari sebagai bukti cinta untuk adiknya, karena dia merasa jadi beban”.

Adik Van Gogh, Theo, membiayai hidup sang maestro yang saat itu, “tidak laku”.

  • Bagikan