Reviu film Captain Fantastic (Drama Komedi)

  • Bagikan
Infonesa, Informasi Indonesia, Berita Indonesia, Infografis, Infografis Indonesia, Indonesia, Infografis Politik, Infografis Ekonomi, Infografis Pendidikan, Artikel, Cerpen, Cerpen Indonesia, Infografik, Infografik Indonesia, Infografik Ekonomi, Infografik Pendidikan, Reviu Film, Reviu Film Captain Fantastic, Film Captain Fantastic, Captain Fantastic, Drama Komedi, Film, Drama Komedi Amerika: Reviu film Captain Fantastic (Drama Komedi)
“Reviu film Captain Fantastic (Drama Komedi)” | Foto ©cinemusefilms.com

FILM | INFONESA — Film Captain Fantastic merupakan drama komedi Amerika Serikat yang ditulis dan disutradarai oleh Matt Ross.

Di zaman yang serba instan ini, sulit sekali rasanya menolak segala kemudahan yang ditawarkan kapitalisme. Akhirnya, tanpa kita sadari kita telah menjadi orang yang konsumtif. Terlena dengan segala kemudahan dan keindahan semu yang ada.

Apalagi ketika harus menjauhkan anak-anak kita dari modernisasi dan teknologi. Tentu hampir tidak mungkin, karena ia akan dikucilkan oleh lingkungan pertemanannya. Lantas bagaimana cara terbaik mendidik anak di era ini?

Saya teringat sebuah film keluarga yang sangat menginspirasi. Membuat para penonton membayangkan keseruan menentang keseragaman. Keseruan hidup bebas sebagai manusia tanpa penindasan.

Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang memilih hidup di tengah hutan demi menentang arus zaman.

Sang ayah, Ben Cash (Viggo Mortensen) mencoba mendidik keenam anaknya tersebut; Bodevan (George MacKay), Kielyr Cash (Samantha Isler), Vespyr Cash (Annalise Basso), Rellian Cash (Nicholas Hamilton), Zaja Cash (Shree Crooks), dan Nai Cash (Charlie Shotwell) dari kerasnya terpaan modernisasi.

Pada pembukaan film, kita akan disuguhkan sebuah adegan perburuan. Bodevan anak lelaki pertama Ben, kala itu berhasil memburu seekor rusa dengan sebilah pisaunya. Cara seperti itulah yang mereka gunakan untuk menobatkan anaknya ketika telah menjadi dewasa.

Selain menjadi seorang ayah, Ben juga sekaligus menjadi seorang guru bagi anaknya. Saat pagi hari, biasanya ia mengajak anak-anaknya untuk berolahraga atau beryoga. Dan di malam hari, ia menyuruhnya untuk membaca buku serta bermain musik. Kegiatan itu rutin diajarkan pada anak-anaknya hampir setiap hari.

Kehidupan keluarga Ben memang jauh dari modernisasi. Mereka tidak memiliki televisi, radio, maupun smartphone di rumahnya. Selama berada di hutan, mereka bertahan hidup dengan cara berburu dan bercocok tanam. Bahkan untuk memasak pun, mereka masih menyalakan api menggunakan batu.

Konflik yang terjadi di film ini yaitu ketika istri Ben, Leslie Abigail Cash (Trin Miller) jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Namun, Leslie bukan meninggal akibat dari penyakit yang dideritanya, melainkan karena ia bunuh diri. Ini merupakan suatu pukulan yang berat bagi Ben dan juga anak-anaknya. Apalagi setelah ayah Leslie (Frank Langella) menolak kedatangan Ben untuk hadir ke pemakaman Leslie di kota.

Akan tetapi, dengan bantuan semangat dari anak-anaknya, Ben pun tidak menyerah. Perjalanan akhirnya dimulai untuk bisa menghadiri pemakaman Leslie. Bermodalkan sebuah bis sekolah yang sudah didesain menjadi mobil keluarga, merekapun meninggalkan hutan dan melakukan perjalanan ke kota. Di sinilah Ross sang sutrada mulai memberikan bumbu satire, terutama dalam dialog dan plot pada film ini.

Ben sangat berbeda dalam cara mendidik anaknya. Ia tidak pernah merayakan natal seperti orang di belahan dunia lainnya. Namun ia lebih suka merayakan hari ulang tahun Noam Chomsky (tokoh intelektual asal Amerika Serikat). Ia lebih senang merayakan hari ulang tahun seorang manusia yang memperjuangkan HAM ketimbang merayakan hari peri magis fiksi.

Dalam perjalanan menuju ke pemakaman Leslie, mereka singgah di rumah adik Leslie untuk menginap. Nama adik Leslie itu, Harper (Kathryn Hahn) dan suaminya (Steve Zahn). Banyak hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya oleh anak-anak Ben ketika tinggal di sana. Anak Ben tidak mengetahui sama sekali tentang sepatu Nike dan Adidas pada saat kedua keluarga tersebut sedang makan malam bersama. Anak-anak Ben pun dibuat bingung ketika menonton kedua anak Harper yang sedang asyik bermain game. Tak lupa, sisi humor yang dimunculkan Ross dalam film inipun sangat renyah untuk ditonton.

Ketika di hari pemakaman Leslie, Ben dan anaknya akhirnya tiba di sebuah gereja. Kala itu mereka mengenakan pakaian cerah di antara pelayat yang mengenakan pakaian serba hitam. Tentu kedatangan mereka menjadi sebuah sorotan bagi para pelayat yang sudah hadir di dalam gereja. Ayah Leslie merasa sangat geram ketika melihat kedatangan Ben, apalagi setelah Ben membacakan surat wasiat istrinya itu di hadapan para pelayat.

Surat wasiat yang ditulis istrinya berisi bahwa; Leslie menginginkan mayatnya dikremasi. Lalu pada saat pemakaman, ia ingin diiringi oleh musik dan tarian. Ia juga meminta abunya nanti dibawa ke tempat yang banyak penduduk, serta ditebar dan sisanya dimasukan ke toilet terdekat.

Namun ayah Leslie tak tinggal diam. Ia akhirnya mengusir Ben dari dalam gereja, serta mengancam akan melaporkannya ke polisi bila hadir saat Leslie dikuburkan. Ben dan anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Di sinilah moment Ben merasa sangat putus asa sebab tidak bisa mengabulkan wasiat dari Leslie yang sangat dicintainya.

Hingga pada suatu malam, Ben dan anaknya mendatangi kuburan Leslie. Mereka menggali kuburan tersebut. Lalu membawa mayatnya pergi jauh dengan mobil. Akhirnya keinginan Leslie seperti di surat wasiatnya terwujud.

Film ini merupakan sebuah kritik sosial yang ingin disampaikan oleh Ross sang sutradara. Di mana kemuakan akan modernisme, konsumerisme, serta sistem kapitalis yang semakin menjalar serta menghuasai setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan bertemakan keluarga, ia mengemas film ini dengan sangat bagus dari sudut pandang yang berbeda.

Peran yang dimainkan oleh Viggo Mortensen sebagai seorang ayah juga sangat sukses di film ini. Hal tersebut juga tak luput karena bisa diimbangi oleh akting pemeran keenam anaknya yang mempunyai karakter yang berbeda-beda. Sehingga film Captain Fantastic ini mempunyai cita-rasa yang spesial dari film keluarga lainnya.

Bila kita sadari, keluarga memang unit terkecil dari suatu lembaga. Ross menyampaikan kritik tersebut dengan membuka cara pandang kita melalui sebuah karya film. Bahwa dari sebuah keluarga ternyata juga bisa mengubah suatu gaya hidup, serta tingkat konsumsi yang semakin tinggi. Terlebih pada zaman yang serba modern saat ini, kita selalu dimanjakan oleh peralatan-peralatan yang tak ada habisnya. Tentunya film ini bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan kesadaran dari setiap individu yang menontonnya.

Inilah yang diajarkan Ben kepada anak-anaknya agar tidak terjerat oleh arus kekinian dalam film ini. Meski dengan cara yang radikal dan menjauhkan anaknya dari kelompok masyarakat. Ben lebih memilih untuk mengisolasikan diri dengan membawa keluarganya di hutan ketimbang harus masuk ke dalam kehidupan sosial yang semakin hanyut dari sistem kapitalis yang terus menggerogoti.

Film ini bisa cocok untuk segala umur. Apalagi semakin tumbuhnya industrialisasi di belahan dunia ini. Perubahan sosial dalam keluarga pun semakin banyak terjadi. Terutama fungsi keluarga untuk mengontrol anaknya. Orang tua pada saat ini memang banyak disibukkan bekerja yang menyita banyak waktu.

Sehingga sepulangnya di rumah, orang tua akan merasa kelelahan lalu beristirahat. Bahkan tak sedikit orang tua yang menyewa baby sitter untuk mengasuh anaknya. Jarang sekali ada waktu untuk membimbing dan mengontrol kehidupan sang anak.

Jadi, film ini juga merupakan kritik terhadap para orang tua, bahwa mencari uang semata bukanlah menjadi patokan dalam sebuah keluarga tersebut dapat hidup bahagia atau tidak.

Saya sangat berharap bahwa film ini bisa ditonton oleh banyak masyarakat Indonesia. Meskipun ada beberapa adegan yang kurang patut untuk dicontoh; seperti saat mencuri makanan di supermarket dan lainnya. Tapi bukan itu esensi dari film Captain Fantastic tersebut.

Kita harus sadar betapa lupanya kita diperdaya oleh sistem kapitalis yang menciptakan suatu barang, agar menjadi komoditas tertentu. Bahkan komoditas semu ini semakin marak didukung oleh banyaknya media. Yang dampaknya membuat kita senantiasa merasa kurang puas, kurang gaul, atau kurang mengikuti tren.

Keinginan manusia terus dicabik-cabik untuk tetap mengonsumsi. Sistem kapitalis memang ingin sekali pola hidup masyarakat yang konsumtif. Dengan dalih bahwa itu adalah lifestyle. Kita tidak terlihat keren kalau tidak berbelanja. Kita tidak terlihat menarik kalau tidak mengikuti fashion. Seakan hal tersebutlah satu-satunya cara untuk menimbulkan eksistensi dari dalam diri manusia.

Keinginan dari dalam manusia ini akan terus dihantui oleh sistem kapitalis, hingga kita tak lagi menyadari apa itu bedanya ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’. Kita selalu dibuat berfantasi untuk membeli barang yang tidak terlalu penting, yang seyogianya dikonstruksikan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup.

Kita dapat berkaca dan mengambil pesan dari film Captain Fantastic. Bahwa cara hidup manusia yang mengonsumsi suatu barang secara berlebihan adalah sama saja melanggengkan sistem kapitalis yang terus menyuguhi kita dengan keinginan-keinginan palsunya. Terlebih lagi, kepalsuan tersebut membuat kita lupa dan terlena oleh kepekaan terhadap realitas yang sedang terjadi pada saat ini.

  • Bagikan