Sailing Stone atau Fenomena Batu Bergerak

  • Bagikan
Infonesa, Informasi Indonesia, Berita Indonesia, Infografis, Infografis Indonesia, Indonesia, Infografis Politik, Infografis Ekonomi, Infografis Pendidikan, Artikel, Cerpen, Cerpen Indonesia, Infografik, Infografik Indonesia, Infografik Ekonomi, Infografik Pendidikan, Sailing Stone, Fenomena Sailing Stone, Batu Bergerak, Fenomena Batu Bergerak, Fenomena Alam, Batu, Stone, Cagar Alam: Sailing Stone atau Fenomena Batu Bergerak
“Sailing Stone atau Fenomena Batu Bergerak” | Foto ©thrillist.com

ARTIKEL | INFONESA — Batu Bergerak atau terkenal dengan sebutan sailing stone. Namun, ada juga yang menyebutnya moving rock, sliding rock, hingga gliding stone. Meski punya banyak nama, artinya tetap sama, yakni batu bergerak.

Ya, batu tersebut bisa bergerak ke berbagai arah. Batu berbagai ukuran ini bisa bergerak membentuk garis lurus, zig-zag, dan setengah lingkaran. Menurut perkiraan, batu ini bergerak satu kali setiap 2-3 tahun.

Namun, masih belum diketahui seberapa cepat batu ini bisa bergerak. Saat bergerak, batu ini meninggalkan jejak di tanah yang dilaluinya. Jejak tanah inilah yang membuat orang tahu kalau batu itu bisa bergerak. Jejak tanah yang ditinggalkan batu ini rata-rata punya ketebalan 2,5 cm. Jejak tanah ini bisa bertahan selama 3–4 tahun.

Fenomena batu bergerak ini pertama kali ditemukan tahun 1948. Para ilmuwan mulai meneliti batu bergerak pada tahun 1968. Namun, ilmuwan masih belum tahu apa yang membuat batu itu bergerak. Karena belum diketahui, ada beberapa orang yang mengatakan, bahwa batu itu digerakkan oleh alien. Akan tetapi, fenomena ini kemudian terpecahkan setelah melewati penelitian yang panjang.

Fenomena ini terjadi di Racetrack Playa, Death Valley National Park, California. Pada awalnya timbul pertanyaan yang disebabkan bergeraknya batu-batu di sana dengan sendirinya dan menimbulkan sebuah jejak. Sailing stone tersebut memang bergerak hanya setiap dua atau tiga tahun dan menimbulkan sebuah jejak.

Racetrack Playa adalah danau kering sementara. Saat musim kering, permukaannya kering, keras, dan kasar. Namun, di musim hujan, permukaannya berubah jadi basah dan lembek.

Sailing stone atau batu yang bergerak tidak hanya yang kecil tetapi juga yang beratnya hingga ratusan kg. Terkadang pada lintasan yang sama namun dapat juga kemudian ia berbelok arah bahkan kembali kepada tempatnya semula.

Terkadang kedua batu bergerak bersisi-sisian tetapi kemudian berpencar. Hampir sebagian batu yang ada akan bergerak hingga sepanjang 65 meter. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan, yang berlangsung 7 tahun bahkan dapat diidentifikasi hampir semua batu dipantau bergerak dengan diameter terkecil 6,4 cm dengan jarak terpanjang kumulatif hingga 260 m. Sedangkan batu yang terbesar yang bergerak adalah seberat 36 kg.

Death Valley National Park adalah taman nasional di negara bagian California dan Nevada yang terletak di sebelah timur Sierra Nevada. Taman nasional ini menempati zona di antara Great Basin yang kering dan gurun Mojave di Amerika Serikat. Taman nasional ini terdiri dari beragam gurun, bukit pasir, tanah tandus, lembah, ngarai, dan pegunungan.

Taman ini telah dinyatakan sebagai International Biosphere Reserve (Cagar Biosfir Internasional). Sekitar 95% dari taman ini adalah daerah padang gurun dan merupakan taman nasional terpanas dan terkering di Amerika Serikat. Titik terendah kedua di belahan bumi Barat adalah di Badwater Basin, yang 282 kaki (86 m) di bawah permukaan laut.

Terdapat dua lembah utama di taman ini, Death Valley dan Panamint Loire. Kedua lembah ini terbentuk dalam beberapa juta tahun terakhir dan keduanya dibatasi oleh pegunungan.

Penelitian di Racetrack Playa memang sudah dimulai sejak awal 1900-an, dan terus berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, belum didapatkan suatu alasan yang sangat pasti dari asal-usul gerakan batu. Kemajuan dari penelitian mulai tampak ketika mulai adanya kamera sederhana yang dapat merekam gerakan batu.

Namun, pada Agustus 2014, timelapse rekaman video batuan bergerak telah diterbitkan, menunjukkan batu bergerak dengan kecepatan angin yang rendah dalam aliran perlahan, yang disebabkan pencairan es. Para ilmuwan telah mengidentifikasi penyebab batu bergerak adalah dorongan es. Batu akan bergerak lalu kemudian berhenti kembali.

Berdasarkan sebuah studi yang dirilis pada bulan Agustus 2014, sebuah artikel melaporkan terpecahkannya misteri ini ketika peneliti mengamati pergerakan batuan dengan GPS dan time-lapse fotografi.

Mereka menyaksikan dan mendokumentasikan gerakan batu pada tanggal 20 Desember 2013 yang melibatkan lebih dari 60 batu, dengan beberapa batu bergerak sampai ke 224 meter antara Desember 2013 dan Januari 2014 pada beberapa peristiwa bergerak.

Penelitian ini bertentangan hipotesis sebelumnya yang menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh angin dan berkaitan dengan pencairan es yang tebal. Sebaliknya, batu bergerak ketika lapisan es besar hanya mencair beberapa milimeter dan mencair selama periode angin cahaya. Pencairan es yang tipis ini akan mendorong batu bergeser hingga lima meter per menit.

“Ini adalah fenomena yang sangat langka,” kata Richard D. Norris, seorang ahli sejarah biologi di Scripps Institution of Oceanography dan penulis utama dari makalah yang menjelaskan hal itu di PLoS One seperti dilansir oleh New York Times.

Dr Norris dan James M. Norris, benar-benar melihat batu bergerak pada bulan Desember ketika mereka pergi untuk memeriksa proyek tersebut. Mereka merasa sangat beruntung.

Penemuan ini juga menjelaskan mengapa banyak lintasan yang sejajar satu sama lain. Para peneliti menemukan bahwa lapisan es bergerak kadang-kadang begitu besar dan akan saling menyenggol batu dan memindahkan mereka ke arah yang sama.

  • Bagikan