Meninggalkan untuk Ditinggalkan

  • Bagikan
Infonesa, Informasi Indonesia, Berita Indonesia, Infografis, Infografis Indonesia, Indonesia, Infografis Politik, Infografis Ekonomi, Infografis Pendidikan, Artikel, Cerpen, Cerpen Indonesia, Infografik, Infografik Indonesia, Infografik Ekonomi, Infografik Pendidikan, Cerpen, Cerpen Fahmi Firmansyah, Cerpen Meninggalkan untuk Ditinggalkan, Meninggalkan untuk Ditinggalkan, Cerpen Indonesia, Cerpen Infonesa: Meninggalkan untuk Ditinggalkan
“Meninggalkan untuk Ditinggalkan” | Foto ©PublicDomainPictures/Pixabay

CERPEN | INFONESA — Tak seperti biasanya, sore ini hujan begitu deras seolah menumpahkan kekesalannya kepada bumi. Namun, hujan adalah janji setia langit kepada bumi. Aku masih duduk termenung di sebuah halte bus, menunggu bus datang untuk mengantarkan pulang. Hujan sudah reda, tetapi masih belum ada bus yang datang. Aku meminta Sekar untuk menjemput.

“Tumben banget kamu minta jemput aku?” tanya Sekar sambil tersenyum.

“Gak ada bus. Mobil aku lagi masuk bengkel. Maafin, ya, aku jadi ngerepotin kamu.”

“Gak apa-apa, kok, aku malah seneng bisa ketemu kamu. Akhir-akhir ini, kan, kamu lagi sibuk banget.” jawab Sekar

Mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang masih basah akibat guyuran hujan. Di sepanjang jalan tidak ada obrolan penting, hanya basa-basi saja. Sebenarnya aku sedang tidak ingin bertemu dengan Sekar, tetapi tidak ada pilihan lain.

Sekar meminta berhenti di sebuah restoran untuk makan malam, aku menurutinya. Sambil menunggu makanan datang, Sekar membuka pembicaraan.

“Andre, akhir-akhir ini aku ngerasa ada yang berubah dari kamu.”

“Apa yang berubah? Aku, kan, bukan power rangers,” tanyaku bergurau.

“Kamu ini, ya, gak pernah bisa diajak bicara serius,” jawab Sekar dengan ketus.

Makanan datang, obrolan kami hanya sampai di situ. Sengaja aku menjawab dengan gurauan, karena sedang malas berdebat. Raut wajah Sekar berubah seperti tak berselera. Sekar tidak menghabiskan makanannya, padahal dia yang meminta makan malam.

Aku mengajak Sekar pulang. Pertemuan itu membuat hubungan kami berubah. Sebenarnya, sebelum pertemuan ini pun hubungan kami sudah mulai renggang. Aku sudah bosan dengan Sekar. Aku sudah tidak mencintainya lagi, tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengakhiri hubungan terlebih dulu.

Aku mencoba menemui Zara. Zara adalah salah satu sahabat baik kami. Aku sering bercerita tentang Sekar kepada Zara. Aku dan Zara bertemu di sebuah tempat makan.

“Gue udah bosen sama Sekar, Zar,” ucapku pelan.

Zara kaget matanya setengah melotot.

“Hah? Terus kalo udah bosen gimana? Lu mau tinggalin Sekar karena bosen?” tanya Zara.

“Gue juga bingung, gak tau harus gimana sekarang. Makanya gue ngajak lu ketemu, gue mau minta pendapat lu, Zar.”

“Dalam sebuah hubungan bosen itu wajar, Dre. Itu hal yang manusiawi, tapi yang gak wajar itu kalo lu tinggalin dia karena bosen. Rasa bosen itu pasti ilang. Banyak cara yang bisa bikin itu ilang. Kalo lu tinggalin Sekar hanya karena bosen, lu pasti nyesel, Dre!”

“Gue juga udah gak sayang sama Sekar. Rasa gue ke Sekar udah bener-bener ilang sekarang. Gue gak tau apa penyebabnya, tapi gue pikir hubungan gue sama Sekar udah gak bisa dilanjutin. Gue gak bisa terus-terusan biarin Sekar kaya gini, Zar.”

“Kalo itu, sih, terserah lu. Yang jalanin hubungan, kan, kalian berdua, gue gak bisa maksa apa-apa. Gue hanya ingetin, pikirin semuanya mateng-mateng, Dre. Gue gak mau lu nyesel!”

Zara menatapku serius, tak ada senyuman di bibirnya. Suasana menjadi kaku, aku mencoba mencairkan suasana. Zara sudah lama tidak mempunyai hubungan spesial dengan laki-laki, ia masih trauma memulai hubungan dengan orang baru.

Dulu, zara pernah sangat mencintai seorang laki-laki. Ia memberikan segalanya kepada laki-laki itu. Bahkan, mereka sudah berencana menikah, tetapi laki-laki itu pergi meninggalkan Zara tanpa sebab dan menikah dengan wanita lain.

Sambil makan aku terus memandangi wajah Zara, wajahnya cantik, kulitnya kuning langsat, bibirnya merah dengan sedikit gincu. Ada perasaan lain saat melihat wajah Zara, sepertinya aku mulai menyukainya.

Selesai makan, aku sengaja mengajak Zara berkeliling untuk melihat keindahan lain dari kota ini. Aku dan Zara berkeliling menggunakan motor kesayangan ayahku, motor vespa tahun tua. Aku pakaikan helm di kepalanya. Dia duduk di belakang dan tangannya memegang keras pinggangku. Aku merasakan kenyamanan saat bersama Zara. Sepanjang perjalanan, tak ada cerita yang membahas tentang hubunganku dengan Sekar. Aku sengaja tidak membahasnya.

Kami melewati gedung-gedung tinggi ciptaan manusia modern dan melewati rumah-rumah kumuh yang dilupakan manusia modern. Aku bercerita tentang keinginanku mengubah rumah-rumah kumuh itu menjadi rumah yang layak di huni.

“Gue pengen, deh, bikin rumah itu jadi layak dihuni sama enak diliat,” ucapku.

“Gimana caranya?” tanya Zara.

“Gue, kan, cuman pengen, Zar. Belum ada niatan beneran, hehe,” jawabku sambil tertawa menggoda.

“Dasar, yaa, lu!” Jawab Zara sambil mencubit pelan pinggangku.

Perjalanan ini membuat aku lupa bahwa aku adalah pacar sahabat Zara. Hari sudah gelap, matahari sudah terbenam, bulan datang mengenalkan bintang. Aku mengantarkan Zara pulang, tangannya melambai, bibirnya tersenyum. Senyumannya mengantarkan aku pulang.

Saat hendak tidur, aku kembali memikirkan hubungan dengan Sekar. Aku pikir, daripada pusing, mending aku hubungi dia. Aku telfon Sekar.

“Aku mau ngomong serius sama kamu, Sekar. Aku udah gak bisa lanjutin hubungan ini. Aku gak bisa terus-terusan kaya gini, aku pengen udahan sama kamu,” ucapku.

“Hah? Kamu kenapa, Dre? Dari kemarin kamu gak ada kabar, sekalinya ada kabar kamu malah ngajak putus. Aku sayang kamu, aku gak mau kita putus, Dre. Aku salah apa sama kamu? Apa yang harus aku perbaiki biar kamu gak pergi, Dre?” tanya Sekar sambil menangis

“Gak ada yang harus kamu perbaiki, kok. Kamu terlalu baik buat aku. Maafin aku, yaa.”

Aku langsung menutup telfon, karena tak tahan mendengar Sekar merengek-rengek lagi. Tekadku sudah bulat, setelah putus dari Sekar aku akan mengejar Zara.

Besoknya aku menghubungi Zara, mengajaknya bertemu untuk memberi tahu kalau aku sudah putus dari Sekar. Aku dan Zara bertemu di sebuah coffeeshop. Aku datang lebih dulu. Aku memilih duduk di pojok, agak jauh dari orang-orang. Sengaja, agar aku bisa ngobrol lebih intim dengan Zara.

Dari kejauhan aku melihat Zara berjalan ke arahku, matanya mencari-cari orang yang hendak ia temui, tanganku melambai kepadanya. Ia duduk tepat di depanku.

“Cantik banget lu hari ini,” ucapku sambil tertawa menggoda.

“Hahaha… ada apa nih? Muji muji kaya gitu,” tanya Zara seolah melihat ada yang aneh dari diriku.

“Engga, Zar. Eh, iya. Gue mau ngasih tau lu. Gue udah putus sama sekar, Zar”

“Serius? Lu mutusin dia gara-gara bosen?” tanya Zara kaget.

“Bukan, kok, bukan gara-gara bosen, tapi gue udah dapet pengganti barunya dia”

“Gila, ya, lu. Siapa penggantinya?” tanya Zara penasaran.

“Nih, di depan gue.” aku menjawab dengan wajah datar, seolah tak bersalah.

“Sialan! Gue kira serius.”

Zara tak menanggapi, ia kira ucapanku hanya becandaan saja. Saat tengah asyik berbincang, aku melihat ada seorang wanita yang berjalan ke arah meja kami,

“Sekar, ngapain kamu di sini?” tanyaku gugup.

“Aku disuruh kesini sama Zara,” jawab Sekar sambil duduk tepat di sebelah Zara.

Sontak aku langsung melihat wajah Zara. Ia tersenyum melihat kekikukanku ini. Mereka berdua asyik berbincang, sedangkan aku diam tak tahu harus berbuat apa. Kursi yang aku duduki terasa lebih panas daripada kopi di depanku.

Tak ada obrolan antara aku dengan Sekar ataupun dengan Zara. Setelah agak lama aku didiamkan oleh mereka, aku menyerah. Akhirnya, aku pamit pulang lebih dulu.

“Apa maksud dari Zara? Aku kan gak nyuruh dia buat ajak Sekar,” ucapku dalam hati.

Dalam perjalanan pulang aku terus menggerutu dalam hati. Aku berfikir ada yang sedang mereka berdua rencanakan terhadapku, tapi apa Zara sejahat itu?

Sesampainya di rumah, hujan turun sangat deras. Sambil melihat air yang turun langsung dari langit, aku masih memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba handphone ku berbunyi, Zara menelepon.

“Hallo. Ada apa, Zar? Tumben banget lu telpon gue.”

“Gue mau minta maaf soal kejadian tadi, gue gak bilang ke lu kalau gue ngajak Sekar. Maafin gue, ya, Dre.”

“Gak apa-apa, kok. Cuman kalau gue boleh tau, apa maksud lu ngajak Sekar, Zar?” tanyaku penasaran.

“Gue takut Sekar mikir yang aneh-aneh kalo gue terus-terusan jalan berdua sama lu, makanya gue ajak dia.”

“Lah? Dia, kan, bukan siapa-siapa gue sekarang.”

Aku berusaha menjadikan ini sebagai kesempatan untuk sedikit memberinya isyarat kalau aku menyukainya.

“Lagian, kita, kan, cuman temen, Zar. Eh, tapi kalo lu mau lebih dari temen, gue juga mau, kok.”

“Apaan, sih, Dre?” jawab Zara, langsung menutup telepon.

Nampaknya, isyarat-isyaratku tak membuahkan hasil. Aku harus berusaha lebih. Aku yakin aku bisa mendapakatkan Zara, meskipun Zara sahabat baik Sekar. Aku tahu aku salah mencintai Zara, tetapi hati tak bisa dipaksa memilih. Ia memilih dengan sendirinya tanpa ada diskusi, tanpa ada izin, hatiku mencintai Zara. Setelah agak lama memikirkan Zara, aku terlelap tidur.

———–

Aku pergi ke rumah Zara. Ia sedang duduk di teras, matanya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Hallo, Zar”

Ia langsung melihatku, kaget.

“Ngapain lu kesini, Dre?” tanya Zara, heran.

“Ada yang mau gue omongin sama lu, Zar,” ucapku sambil masih berdiri menunggu Zara mempersilahkan duduk.

“Yaudah omongin aja, Dre,” jawab Zara sambil menyuruhku duduk.

“Maafin gue sebelumnya. Gue tahu ini salah, gue tau kalau lu sahabat baik Sekar mantan gue, tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue, Zar.”

Aku yang biasa berbicara dengan Zara pake gue lu berubah menjadi aku kamu.

“Aku sayang kamu, Zar.” aku menatap matanya serius tanpa keraguan.

Zara menunduk, tak ada kata terucap dari bibirnya. Aku masih tetap menunggu jawabannya. Setelah agak lama menunduk, ia mengangkat wajahnya melihat ke depan dengan penuh keyakinan. Ia menghela napas panjang dan aku terbangun dari mimpiku.

Sial! Itu hanya mimpi. Aku tak benar-benar bertemu dengan Zara. Aku mencari handphone ku untuk menelepon Zara. Nomor teleponnya tidak aktif. Aku duduk di teras, melihat matahari pagi yang indah, tak ada awan yang menghalangi matahari.

Setelah agak lama duduk, aku mulai bosan dan memutuskan untuk pergi ke luar rumah sekadar menghirup udara segar ke taman. Sesampainya di taman, aku duduk di bawah pohon yang rindang, tapi aku tak tahu nama pohon ini.

Aku kembali teringat Zara, terlebih setelah mimpi itu.

“Apa aku samperin aja dia ke rumahnya kaya di mimpi itu?” ucapku dalam hati.

Setelah bergelut agak lama dengan pikiranku sendiri, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Zara. Aku ketuk pintu rumahnya, tak ada jawaban. Sepertinya tak orang di dalam rumah ini. Aku tetap berdiri di depan pintu rumah Zara. Tak lama ada seorang ibu yang keluar dari rumah sebelah, ia mengahampiriku.

“Mau nyari siapa, Nak?” tanyanya.

“Aku mau nyari Zara, Bu. Tapi dari tadi kok gak ada yang jawab, ya?”

“Zara sama keluarganya sudah pindah rumah.”

“Kalo boleh tau pindah kemana, ya, Bu?” tanyaku.

“Kalo itu, ibu juga kurang tau.”

“Oh, yaudah makasih, ya, Bu.”

Aku pergi meninggalkan rumah Zara.

“Kemana Zara pindah?” tanyaku dalam hati.

Hanya ada satu orang yang bisa tahu di mana keberedaan Zara sekarang, yaitu Sekar. Aku menelepon Sekar. tanpa basa-basi aku bertanya.

“Kamu tau gak Zara pindah rumah kemana?”

“Gak tau” jawabnya ketus, lalu mematikan telepon.

Aku semakin bingung. Sekar tak mau memberi tahu keberadaan Zara. Tak ada jawaban di mana keberadaan Zara. Zara hilang tanpa kabar. Hampir tiga bulan aku berdiam diri di rumah, terus menerus memikirkan Zara. Saat sedang duduk di kamar, aku mendengar suara ketukan pintu.

Aku pergi ke depan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Sesampainya di depan pintu, tak ada orang, hanya ada selembar undangan. Ternyata, undangan pernikahan dari Zara.

— Fahmi Firmansyah —

  • Bagikan