Tidak Perlu Menjadi Pelangi untuk Orang Lain

  • Bagikan
Infonesa, Informasi Indonesia, Berita Indonesia, Infografis, Infografis Indonesia, Indonesia, Infografis Politik, Infografis Ekonomi, Infografis Pendidikan, Artikel, Cerpen, Cerpen Indonesia, Infografik, Infografik Indonesia, Infografik Ekonomi, Infografik Pendidikan, Cerpen, Cerpen Infonesa, Cerpen Sinta Eka, Cerita Pendek, Tidak Perlu Menjadi Pelangi untuk Orang Lain, Infonesa: Tidak Perlu Menjadi Pelangi untuk Orang Lain
"Tidak Perlu Menjadi Pelangi untuk Orang Lain” — Foto ©StockSnap/Pixabay

CERPEN | INFONESA — Sore itu, Dewi duduk di bangku yang terletak di bawah pohon kelengkeng di taman kota. Ia menikmati hembusan angin sembari membaca buku, itulah rutinitas favoritnya.

Tak lama berselang, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya dari arah belakang.

“Dewi …”

Dewi berbisik dalam hati. Sepertinya, ia mengenali suara itu. Ia langsung menoleh.

“Eh, kamu, Vin,” sapa Dewi kepada kawan lamanya.

“Iya, aku boleh duduk di situ?” tanya Alvin, sambil menujuk sebuah kursi panjang.

“Boleh, boleh, silahkan!”

“Gimana kabarmu, Wi?” tanya Alvin sembari mengangkat kedua sudut bibirnya.

“Seperti yang kamu liat, Vin, aku baik, kamu sendiri gimana?” balas Dewi.

“Aku masih seperti dulu, masih sering mikirin kamu, he-he,” goda Alvin.

“Ah, kamu, Vin.”

Kata-kata Alvin mempertajam rona di wajah Dewi. Sekali lagi, ia berhasil membuat Dewi tersipu. Mereka berbincang mengenang masa-masa di bangku SMA dulu. Canda dan tawa mereka meramaikan taman kota di sore itu.

“Dulu, kan, kamu pernah ngajakin bolos sekolah, Vin,” ucap Dewi.

“Ha-ha, iya, aku baru ingat. Kita enggak jadi bolos karena kamu gak bisa panjat tembok sekolah dan akhirnya kita balik lagi ke kelas, kan,” sambung Alvin.

“Ha-ha, iya, temboknya tinggi, sih.”

Mereka berteman cukup akrab sebelum Alvin mengatakan isi hatinya. Ia ingin menjadi kekasihnya Dewi. Di tengah perbincangan itu Alvin bertanya tentang kekasih Dewi saat ini.

“Pacarmu kemana, Wi?”

“Aku sama dia udah putus sejak setahun lalu, Vin,” jawab Dewi.

“Oh, sebenarnya aku juga udah tau, sih. Berarti bisa, dong, aku daftar lagi? he-he.”

“Lho, kok bisa tau, kamu detektif, ya? Ha-ha,” gurau Dewi.

Sejenak keduanya terdiam dan nampak canggung. Akhirnya, Alvin mulai menatap Dewi dengan raut wajah yang serius.

“Sebenarnya, Wi, aku datang menemui kamu untuk hal penting. Sejak kita lulus SMA dan kamu memilih untuk bersama orang lain, aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Aku bukan Alvin yang dulu, Wi, aku udah sukses sekarang. Lagi pula, sekarang kamu juga udh lama sendiri, kan,” ungkap Alvin

“Tapi, Vin?”

Dewi menunjukkan keraguan. Dari wajahnya, ia terlihat sedang memikirkan matang-matang tentang apa yang baru saja dikatakan temannya itu.

“Tolong jangan bicara dulu, Wi, dengerin aku dulu. Aku sekarang bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan ternama. Aku akan berusaha memenuhi apa yang kamu mau, asalkan kamu mau bersamaku. Aku akan bahagiain kamu, Wi.”

Dewi terdiam cukup lama, sedangkan Alvin terlihat gugup menantikan jawaban dari Dewi.

“Gini, Vin, dulu aku enggak nerima kamu bukan karena keadaan kamu yang belum sukses. Lagi pula, sekarang aku enggak menjalin hubungan dengan siapa-siapa karena aku masih nyaman dengan kondisi ini, Vin. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, ia akan menemukan pilihannya sendiri. Sorry, ya, Vin,” jelas Dewi.

Alvin terdiam menahan sesak di dadanya. Ia kecewa bukan main, langit pun ikut muram. Angin sejuk sore itu menjadi semakin dingin menerpa kulit Alvin, menembus tulang hingga ia merasa benar-benar telah dipatahkan.

“Tapi, aku enggak bisa kehilangan kamu untuk kedua kalinya, Wi. Aku enggak bisa kehilangan sosok teman sekaligus kekasih seperti kamu.”

“Jangan khawatir, kamu tetap temanku. Aku masih bisa menjadi tempat kamu bercerita. Namun, bukan untuk menjadi kekasih. Vin, kamu layak bahagia dan kamu pasti akan menemukan orang yang lebih tepat. Terima kasih, ya, untuk semuanya,” tutup Dewi.

Langit semakin mendung dan Alvin masih tertunduk mematung. Melihat Alvin seperti itu membuat Dewi merasa iba. Ia mencoba menenangkan perasaan Alvin.

“Kamu tau, Vin, kita enggak perlu memaksa diri menjadi pelangi untuk orang lain karena belum tentu semua orang menyukai pelangi. Cukup jadi pelangi untuk diri kita sendiri dan yang menyukai pelangi akan datang dengan sendirinya.”

Alvin tetap terdiam, ia tidak menghiraukan pernyataan Dewi. Akhirnya, Dewi memilih untuk meninggalkannya sendirian. Berharap Alvin bisa merenungi perkataannya.

“Kayaknya mau hujan, nih, aku pulang duluan, ya, Vin.”

Setelah berpamitan, Dewi merapikan tas jinjingnya kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. Setelah cukup jauh melangkah, ia kembali menoleh ke arah Alvin dan menghampirinya.

Sambil memegang pundak Alvin, ia berkata, “Oh, ya, Vin, kamu enggak perlu jadi siapa-siapa untuk orang lain. Kamu sudah sempurna jadi diri kamu sendiri.”

Setelah itu, Dewi berlarian kecil menuju halte busway, meninggalkan alvin yang masih bergeming di tempat duduknya. Tak lama kemudian, gerimis turun menyamarkan air matanya.

Dalam perenungan, perlahan Alvin memahami perkataan Dewi. Ia tidak perlu merubah dirinya demi orang lain. Dia sadar bahwa dirinya memiliki warna tersendiri yang tak kalah indah dari pelangi.

Di tengah gerimis, ia bangkit dari tempat duduknya. Perjalanan panjang telah membentuknya. Dia telah banyak belajar dan semakin dewasa dalam menghadapi kenyataan. Dia juga tidak ingin buru-buru mencari kekasih demi melampiaskan kekecewaannya. Dengan kata lain, Alvin telah berdamai dengan dirinya dan dia hanya ingin melakukan hal yang membuat dirinya bahagia.

Sinta Eka

  • Bagikan