Lula

  • Bagikan
Cerpen, Cerita Pendek, Cerpen Infonesa, Infonesa: Lula
"Lula" | Cerpen Fahmi Firmansyah — Foto ©Pixabay

Aku cemburu pada matahari yang menyinarimu setiap hari, cemburu pada hujan yang membasahi tubuhmu, cemburu pada udara yang kau hirup, dan aku cemburu pada semua yang ada di dekatmu. Namun, tidak ada keberanian dalam diriku untuk menyampaikan setiap cemburu yang aku rasakan. Aku hanya mampu bercerita kepada angin, berharap ia dapat menyampaikan semuanya kepadamu.

Sebelum mengenalmu, aku baik-baik saja. Kau datang membawa kebahagiaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Kemudian kau pergi dan menarik kembali kebahagiaan itu. Sejak kepergianmu, aku tidak pernah baik-baik saja.

***

Aku masih berdiam diri di kamar sembari memandang potomu. Senyumanmu, membuat bibirku ikut tersenyum.

“Gak apa, Pras, sedih itu hal yang wajar, kok. Kalau perlu nangis, menangislah, tak ada larangan bagi laki-laki menangis. Menangis itu mengungkapkan perasaan dan menghilangkan beban. Menangis itu bukan soal gender,” kata ibu sambil duduk mengusap bahuku.

Aku hanya menunduk tak bisa berkata apa-apa.

“Makan dulu, yuk, nanti lanjut lagi sedihnya. Hari ini aja, ya, gak perlu berlarut-larut dalam kesedihan, Pras,” ujar ibu sambil berjalan meninggalkan kamar.

Setiap ada masalah aku selalu bercerita kepada ibu, bahkan masalah yang sedang aku rasakan sekarang pun aku ceritakan kepadanya. Ibu selalu mendengarkan setiap masalah yang aku ceritakan tanpa pernah menghakimi.

“Bu, aku diputusin sama Lula,” ucapku sambil menunduk tak berani memandang wajah ibu.

“Kamu berbuat salah, Pras?” tanya ibu

“Engga, Bu. Dia mutusin aku tanpa sebab. Sekarang dia sudah punya pacar baru, Bu.”

“Harusnya kamu berterima-kasih kepada pacar barunya, sebab berkat dia kamu jadi tau kalau Lula bukan yang terbaik buat kamu,” tegas ibu.

Hari berlalu begitu cepat, perasaanku belum berubah. Aku masih mengharapkan Lula kembali. Sudah hampir satu bulan setelah Lula memutuskan hubungan kami. Namun, aku masih saja memikirkan Lula. Tak ada keberanian untuk menghubunginya–sekedar menelepon–menanyakan kabar.

“Apa kamu bahagia dengan pacar barumu?”

Aku hanya bisa melihat setiap aktifitas yang dia lakukan di instagram storynya. Tak jarang ia pamer kemesraan di media sosial. Setiap melihatnya dengan pacar barunya, hatiku seperti teriris pisau yang ada di dapur ibu, perih!

Saat aku tengah meminum teh hangat sembari melihat hujan, ibu duduk di sebelahku.

“Dulu, ayah kamu mati-matian buat dapetin ibu. Waktu itu, ibu punya pacar. Kalau masalah ganteng ya jelas lebih ganteng pacar ibu dibanding ayah kamu, tapi ayah kamu ga pernah nyerah buat ngejar ibu. Padahal, ibu udah bilang ga usah ganggu ibu, tapi ayah kamu ngeyel. Sampai akhirnya, ibu tau kalau ayah itu tulus. Pacar ibu selingkuh, dia tinggalin ibu. Waktu ibu galau, ayah dateng. Ayah dengerin curhatan ibu, tak pernah menghakimi ibu. Ibu luluh sama ayah kamu,” jelas ibu.

“Ibu tau ayah tulus dari mana?”

“Ya, ini buktinya udah ada kamu,” jawab ibu.

“Oh, iya juga.”

“Kamu harus seperti ayah, Pras. Berjuang! Dapet atau engga itu urusan Tuhan. Tugas manusia, kan, cuman berusaha sama berdoa. Seengganya, kalau udah berusaha, kan, kita gak penasaran. Daripada diem terus kaya gini, menyesali hal yang udah terjadi, kan, gak ngerubah apa pun, Pras.”

“Terus, sekarang aku harus bagaimana, Bu?” tanyaku.

“Ya, jawabannya ada di diri kamu sendiri, Pras,” jawab ibu.

***

Setiap merasa jenuh dengan keadaan aku selalu menyempatkan diri untuk ngopi. Menurutku, kopi adalah sumber inspirasi. Setiap minum kopi, aku selalu merasakan sesuatu yang berbeda. Sore itu, aku sedang duduk sendiri di sebuah kedai kopi menikmati segelas kopi tanpa gula.

“Aku ikut duduk di sini, ya,” ujar seorang gadis yang aku tidak tahu namanya.

“Oh, iya, silahkan,” jawabku sedikit terkejut.

“Sendirian aja?” tanyaku, mencairkan suasana.

“Iya, nih,” jawabnya, datar.

“He-he. Emang kadang kita butuh waktu sendiri, memahami diri sendiri, lebih dekat dengan diri sendiri, juga mencintai diri sendiri. Orang lain aja kita sayangin masa diri sendiri engga,” ucapku.

“Betul banget. By the way, kenalin nama aku Lula,” ucapnya sembari menjabat tanganku.

“Aku Pras.”

Tangannya lembut, tetapi dingin. Wajahnya cantik, kulitnya putih, yang paling kusuka adalah senyumannya.

“Lagi nunguin temen? Atau emang sendirian?” Tanya Lula

“Engga. Emang lagi sendiri,” jawabku.

“Biasanya, setiap ke kedai kopi ini aku ditemenin salah satu cowo. Aku dikenalin sama dia ke baristanya, dikasih tau cara meminum kopi, bahkan aku dikasih tau cara milih kopi yang enak,” ujar Lula, matanya kosong.

Sepertinya wanita ini sedang ada masalah dengan hatinya.

“Terus, kemana cowo yang biasa nemenin kamu?” tanyaku, penasaran.

“He-he. Dia udah punya pacar,” jawabnya, menunduk.

“Eh, maaf, ya. Aku gak tau.”

Suasana menjadi agak canggung, aku tidak berani bertanya apa-apa lagi, khawatir membuatnya semakin sedih.

Aku ingat betul bagaimana pertemuan pertama aku dengan Lula. Di kedai kopi yang sampai sekarang, sepertinya aku tak akan berani pergi ke sana lagi. Setelah pertemuan itu, seperti sudah ditakdirkan oleh Tuhan, aku bertemu lagi dengan Lula. Kali ini tempatnya berbeda, kami bertemu di sebuah perpustakaan.

“Eh, Lula,” tegurku.

“Eh, Pras, kok, kamu ada di sini?” ucapnya.

“Selain suka kopi, aku juga suka buku,” jawabku sembari memilih-milih buku untuk dibaca.

“Kita sama, ya.”

“Aku boleh minta nomer hp kamu?”

Tak tau dari mana keberanian ini datang, ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Lula mengambil handphone-ku dan menuliskan nomornya.

Aku kembali memilih-milih buku, tanganku terhenti di buku Bumi Manusia, karya Pramoedya. Aku memang menyukai karya-karya Pram. Kesetiaan Minke terhadap Annelies, ketegaran hati Nyai Ontosoroh, dan banyak hal-hal lainnya yang membuatku terpukau.

Sesampainya di rumah, aku memberanikan diri menelepon Lula.

“Halo, Lula.”

Pembukaan yang agak canggung.

“Halo, Pras. Ada apa?”

“Engga, si. Aku cuma pengen nelpon kamu.”

“Yee, dasar.”

“Besok kamu ada acara gak?” tanyaku.

“Gak ada, kenapa emang?”

“Ketemu di taman, yuk!”

“Boleh.”

Besoknya, kita bertemu di taman sembari melihat dedaunan yang hijau. Setelah lama berbincang-bincang, aku mengetahui banyak hal dari Lula. Lula adalah wanita yang bisa dibilang sempurna, dia cantik, humble, hatinya juga tegar.

“Aku anterin kamu pulang, ya,” tawarku.

“Boleh, deh.”

Sesampainya di rumah, pikiranku terbayang-bayang senyuman manis Lula. Sepertinya aku mulai menyukainya. Tanpa berpikir lama, aku mengajak Lula bertemu lagi untuk menyatakan perasaanku. Aku mengajak Lula bertemu di tempat pertama kita bertemu.

Karena hari ini hatiku sedang cerah, aku memesan es kopi susu dingin. Sebenarnya, menurutku, kopi susu adalah kopi yang kontradiktif. Saat aku tengah menikmati paduan antara kopi dengan susu, aku mencium wangi yang telah ku kenal.

“Enak banget kayaknya tuh kopi,” ujar Lula sembari memundurkan kursi untuk duduk.

“He-he, iya, tapi kemanisan,” ucapku sambil memandang Lula

“Kok bisa? Biasanya juga enggak ah.”

“Ada kamu, jadi nambah manisnya,” godaku sambil tersenyum.

“Yee, Dasar,” jawabnya sambil mencubit pelan tanganku

“ngomong-ngomong, ada apa kamu ngajak ketemu di sini?”

“Ada yang mau aku omongin,” jawabku sedikit gemetar.

“Mau ngomong apa? kayanya serius banget,” ujar Lula dengan tatapan menyelidiki.

“Aku sayang kamu,” ucapku pelan.

“HAH???” Lula kaget.

“Iya, aku sayang kamu, Lula.”

“Pras, kamu serius?”

tatapan Lula semakin tajam seolah tak yakin dengan yang baru saja aku katakan. Sepertinya, aku terlalu terburu-buru. Kemungkinan besar Lula menolak perasaan ini.

“Kasih aku waktu, ya, Pras,” jawab Lula.

Aku bersyukur Lula tidak langsung menolak. Kopi semakin dingin, tanganku gemetar, bahkan aku tak berani memandang wajah Lula. Kami berdua berdiam sejenak, suasana menjadi canggung.

“Pras, aku mau jawab,” Ucap Lula memecah keheningan

“Aku mau jadi pacar kamu,” Jawabnya tegas.

Perasaanku campur aduk, kaget, senang, juga lemas, aku masih tidak percaya. Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya, tetapi untuk mengangkat kepala pun terasa sangat berat.

“Kamu gak becanda, kan?” tanyaku

“Kalau kamu serius, aku lebih serius, Pras,” jawab Lula

Saking senangnya mendengar jawaban Lula, aku sampai tak sadar berteriak sangat kencang sampai pengunjung di kedai kopi melirik semua ke arahku.

Lula mencubitku, “Pras! Malu tau.”

“He-he, maaf. Kesenengan,” ujarku

Aku tidak peduli orang-orang melirikku karena rasa malu di hari itu telah kalah dengan senang yang aku rasakan. Hal yang benar-benar tak kusangka, Lula mau menerima cintaku. Aku masih tak percaya, wanita secantik Lula mau denganku.

Setelah berpacaran, aku dan Lula sering jalan keluar. Menikmati kopi di sore hari, membaca buku di perpustakaan, dan menikmati macetnya jalanan. Hampir setiap minggu kami menyempatkan satu hari untuk menghabiskan waktu berdua. Seolah tak mempunyai beban hidup, aku bahagia bersama Lula.

Seperti biasa, jika tidak ada kerjaan aku selalu menyempatkan ngopi di kedai kopi dekat rumahku. Aku memesan hot cappucino. Sembari membaca buku yang aku pinjam kemarin di perpustakaan, aku larut masuk ke dalam buku sampai tak terasa kopi sudah dingin.

“Jangan pernah salahkan kopimu yang dingin, dia pernah hangat. Namun, kau abaikan.”

Saat tengah meneguk kopi, tatapanku tertuju ke bar. Aku seperti melihat orang yang sangat ku kenal, Lula. Ia terlihat sedang tertawa dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenal.

“Kelihatannya Lula seneng banget,” bisikku sembari berjalan ke bar.

“Lula?”

“Eh, Pras. Kok, ada di sini?” jawab Lula, sepertinya dia kaget melihat keberadaanku.

“Siapa?” ujar lelaki di sebelah lula sembari mengangkat kepalanya

“Gue Pras. Pacar Lula,” jawabku.

Mendengar jawabanku, lelaki itu kaget seolah tak percaya.

“Eh, bu…bukan, kok,” jawab Lula

“Dia mantan aku,” lanjutnya.

“MANTAN!” ucapku kaget.

“Ayo, sayang, kita pulang!”

Lula berdiri sambil menggandeng lelaki di sebelahnya. Aku hanya terdiam dan memandangi Lula berjalan dengan lelaki itu.

“Apa maksud perempuan itu?” ucapku dalam hati.

Aku kembali duduk, mencoba menenangkan diri dengan meminum kopi yang sudah dingin. Aku masih belum memahami kejadian tadi. Pertama, dia bilang aku mantannya. Kedua, dia memanggil lelaki itu dengan sebutan “sayang”.

“Siapa lelaki itu?”

 

— Fahmi Firmansyah —

  • Bagikan